Story

Years Later

Lanjutan dari ini >> To the Pigs

Isak tangis Wanita yang berlutut agak jauh dihadapanku itu semakin mengeras. Wajahnya merah, rambut panjangnya basah karena keringat dan kusut menutupi sebagian wajahnya.
“Nyonya, saya tidak akan menyakitimu”. Ujarku datar. Jari – jariku yang mencengkram rambut suaminya bergeser sedikit, mencari posisi baru yang lebih nyaman. Darah membuat jari – jariku hampir tergelincir.
Suami wanita ini, menteri X, sudah mati. Aku membunuhnya beberapa menit yang lalu. Tidak ada perintah yang jelas tentang melarang adanya saksi mata. Jadi aku tidak repot – repot menunggu menteri X sendirian. Hanya saja masih ada satu instruksi yang perlu kulakukan
“Raja memerintahkan untuk membawa kepala suami anda kehadapan beliau”
Si istri menjadi histeris dan mulai berteriak. “TIDAK!! LEPASKAN SUAMIKU!!! KAU IBLIS!!”
Aku memotong sumpah serapahnya “Undang – undang kerajaan menyatakan bahwa pihak yang menyandang status pengkhianat kerajaan akan mendapat hukuman pancung…”
blablablablabla…Aku merapalkan bunyi pasal – pasal yang sudah kuhapal diluar kepala tersebut dengan lancar
“…..Jika terbukti kerabat oknum tersebut, yaitu anda selaku istri, tidak terlibat maupun mengetahui perbuatan pelaku maka kerabat terbebas dari segala hukuman dan akan menerima insentif sebagai bentuk belasungkawa atas pengkhianatan oknum, dari Raja”. Selama aku berbicara wanita itu tidak berhenti meneriakiku sambil terisak hebat yang mana membuat apapun yang diucapkannya menjadi tidak jelas.
Aku menarik napas dalam – dalam. Kewajibanku untuk mendeklarasikan pasal menyangkut kasus yang membelit suami wanita itu sudah selesai. Aku menambah lilitan rambut menteri X di jemari ku hingga dekat dengan kulit kepala. Kemudian dengan tanganku yang satunya aku menggorokan pisau keleher jasad menteri X.
“TIDAAAAAK!!! HENTIKAAAAAAAN!!”. Wanita itu lebih histeris dari sebelumnya. Sesaat sebelum pekerjaanku selesai wanita itu jatuh pingsan.
Aku memasukkan kepala menteri X ke dalam karung dan pergi meninggalkan kediaman sang mendiang.
….
Seperti biasa Raja memasang wajah jijik ketika aku memperlihatkan hasil kerjaku, tapi beliau juga tidak mampu menyembunyikan kepuasan yang terpancar dari sinar matanya.

==============================================================

Seperti pada malam – malam tertentu sebelumnya, aku menyelinap ke dalam Carnellian yang telah kosong. Kegelapan dan kesunyian yang menyelubungi aula besarnya menjadi salah satu dari sedikit kemewahan yang benar – benar dapat kunikmati. Aku betah berjam – jam berdiri didepan altarnya. Kemudian berbaring di lantai diantara barisan depan kursi – kursi yang berjajar memenuhi aula. Aku melewatkan malam disitu bukan karena aku tidak memiliki tempat tinggal. Selama lebih dari satu dekade aku bekerja melakukan pekerjaan kotor Raja. Tentu saja Raja membayarku dengan mahal. Akan sangat sulit baginya menemukan pembunuh yang sedikit memiliki kelemahan vital dan tidak berbelit – belit seperti para penyihir atau manusia langka peliharaan demon. Pikiranku melayang pada kejadian lampau yang merupakan awal dari semua ini. Pintu bagiku untuk memasuki kehidupan dimana uang bukanlah masalah. Aku yang sekarang hanya bisa terkikik geli karena semua yang dulu kuimpikan sama sekali tidak memberiku kebahagiaan. Bukan. Aku bukan orang munafik yang selalu mengatakan kalau uang, tempat tinggal nyaman, dan perut yang kenyang tidak membawa kebahagian. Semua itu membawa kebahagiaan, tentu saja, andai apa yang kau lakukan dimasa lalu tidak menghantuimu. Walaupun begitu aku bukan orang yang suci, seperti yang kuharapkan. Karena yang sebenarnya mengusikku adalah seberapa pun seringnya aku memanjatkan doa dan memohon pengampunan, tidak sekalipun aku merasa pantas mendapatkan pengampunan. Karena apa yang perlu diampuni kalau aku tidak benar – benar merasa bersalah atas perbuatanku yang satu itu
Pertanyaannya hanya satu. Aku atau dia. Tentu saja Aku akan memilih diriku sendiri.

==============================================================

Setelah sekian lama akhirnya aku mendapat kesempatan melihat makhluk itu dengan jelas. Ingatan ternyata belum mengkhianatiku. Aku masih ingat tubuh ramping dan jangkungnya. Rambut biru panjangnya. Kulit pucatnya. Dan tentu saja, pendar cahaya kebiruan yang memancar dari sekujur tubuhnya. Tapi kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia rupawan tiada tara; tulang belulang wajahnya terpahat sempurna dilengkapi dengan sepasang mata kucing berwarna biru terang. Tapi persetan dengan itu semua.
“Sudah lama aku mendengar cerita tentangmu. Membuat keonaran menggunakan ‘hadiah’ku. Tapi aku tidak mengenalmu”. Demon laki – laki itu berkata dengan suara yang indah. Melangkah pelan mengitari ku seperti predator mengintai mangsanya.
“Awalnya aku penasaran, sampai mana kau akan berpetualang….sampai mana kau akan menyalahgunakan ‘hadiah’ku.”. Langkahnya berhenti tepat dibelakangku.
Aku berbalik menghadapnya. Dalam hati aku merasa bangga karena mampu menahan tawa saat mendengar kata ‘menyalahgunakan’. Siapa diantara kita yang menguasai ilmu salah dan benar.
“Kau tidak memegang kontrak ku.” Bisikku lirih. Tanganku gemetaran dan mataku berair. Skenario kejadian ini sudah kulatih selama bertahun – tahun.
Demon itu melangkah mendekat.”Aku memang tidak memegang kontrak mu. Tapi kau tetaplah manusia….”
Setiap langkah maju yang diambil demon itu, aku melangkah mundur.
Dengan wajah sedih ia berujar. “Seharusnya kau tahu dengan siapa kau bermain api. Katakan…….bagaimana cara mu?”
Oooh tentu saja dia ingin tahun bagaimana caranya aku bisa memiliki ‘hadiah’nya tanpa terikat kontrak.
Aku tidak menjawab dan berhenti melangkah mundur. Sang demon meniru gerakan ku. Tiba – tiba pilar – pilar hitam yang anehnya terbuat dari cahaya menyeruak dari lantai batu mengelilingi si demon. Dalam pilar – pilar itu aku melihat lambang – lambang rumit berenang berputar – putar secara acak. Mata sang demon terbelalak , tidak yakin menatapku atau menatap pilar – pilar itu.
“Apa – apaan ini?”
Aku menghapus topeng ketakutan palsuku dan memasang ekspresi wajahku yang paling datar. “Kau tidak benar – benar mengira aku akan menghabiskan bertahun – tahun ini tanpa menyiapkan diri untuk menyambutmu kan?. Aku sudah merusak mainan-mu yang paling indah, tentu saja aku hidup dalam ketakutan.” Kataku cepat – cepat sambil mengawasi sekitarku. Aku tak tahu kapan dia akan menampakan diri. Walaupun aku tahu si demon biru tidak berdaya berkat pilar – pilar sihir itu, aku tetap tidak ingin membuatnya lebih marah padaku daripada sebelumnya.
“Kalau kau mau tahu bagaimana caranya…….aku mencurinya” Aku menatap mata biru si demon “Kandang kuda. Kau ingat?”. Aku tidak menunggu reaksinya. Tentu saja dia ingat.
Dari seberang ruangan aku mendengar derap sepatu pada lantai batu. Aku mengitari ‘penjara’ si daemon, sekedar untuk bisa melihat sosok si pemilik langkah kaki.
“Kerja yang bagus” kata sosok itu dengan ceria. Dia pria, memakai jubah hitam, tampak seperti paruh baya pada umumna, tapi Raja sekalipun tahu pria ini sangat kuat. Ia sudah terobsesi dengan sang demon biru begitu aku menceritakan riwayatku padanya. Mungkin pria ini juga demon. Entahlah.
Aku tidak inginĀ  berada disini lagi. Aku tidak mau tahu apa yang akan dilakukan pria ini pada si demon. Sebelum melangkah pergi aku berbalik dan berbisik pada si demon, tak peduli apa dia dapat mendengar suaraku atau tidak. “Aku ada disana”.

Sebenarnya aku tidak menyalahkannya. Sama sekali tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s