Story

To the Pigs

Hujan sore membuat tanah menjadi lunak dan berlumpur. Langit sudah berhenti menitikkan air, tetapi bekas hujan masih menyisakan hawa dinginnya. Malam itu, di pintu belakang sebuah brothel, seorang gadis kecil yang hampir ambruk setengah diangkat oleh seorang pria, sementara itu seorang wanita yang kelihatannya pemilik brothel tersebut memakinya.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau pikirkan” Tuding wanita itu pada pria lainnya yang berdiri sempoyongan di ambang pintu. “Membeli gadis tidak berguna seperti ini”.
Gadis yang dimaksud berusia 13, tapi keliatan seperti dibawah 10 tahun. Tubuhnya ringkih. Rambutnya berwarna jerami dalam keadaan kotor. Petak – petak kulit pucat mengintip dari sela – selanya. Si gadis terus menerus batuk. Pneumonia. Tidak ada pembeli yang mau berurusan dengan ‘barang’ sakit.
Wanita pemilik brothel mengangkat wajah si gadis dengan jari telunjuknya. Dalam keadaan bersih dan sehat pun si gadis tidak akan mendatangkan keuntungan banyak. ‘Gadis ini berwajah seperti tikus’ pikir wanita tersebut dengan jijik.
Kepada pria yang mencengkram lengan si gadis, wanita itu berkata “Potong dia, dan berikan pada ternak”.
Pria tersebut menyeret si gadis yang jatuh lemas melewati kandang – kandang babi, memasuki bangunan reyot dibelakangnya. Tempat itu adalah kandang kuda yang sudah lama tidak digunakan. Si pria memanggil rekannya yang kemudian muncul dari dalam bangunan tersebut.
“Ikat yang ini juga”.
Mereka berdua menyeret si gadis ke dalam salah satu istal dan merantai kakinya secara sembarangan. Walau kedua pria tersebut cukup yakin si gadis tidak bisa melarikan diri, salah satu pria menghantamkan potongan besi ke kaki yang terlilit rantai. Si gadis tidak menyeluarkan suara sedikitpun. Kedua pria terkekeh – kekeh dan berjalan keluar. Di sudut matanya si gadis melihat potongan besi tersebut tergeletak di depan salah satu istal di bagian kiri kandang.

Malam semakin larut. Si gadis tidak tertidur walaupun tubuhnya begitu letih dan sulit bernapas. Dia berharap dia mati malam ini juga digerogoti dingin, karena dia yakin kedua pria tadi akan menjalankan perintah si wanita pemilik brothel saat fajar hampir menyingsing. Dan mereka tidak akan repot – repot membunuhnya dulu sebelum memotong – motong tubuhnya. Tiba – tiba udara terasa berat, tetapi angin berhembus dari kegelapan di pojok kanan kandang. Ini bukan angin dingin setelah hujan yang berhembus dari celah di dinding. Angin ini lembut dan mendirikan bulu kuduk.
Langkah kaki yang ringan terdengar dari pojok yang gelap. Seiring dengan semakin mendekatnya suara langkah kaki tersebut cahaya redup menerangi sebagian istal – istal yang dilewatinya. Siapapun itu, itu bukan manusia. Walaupun hidup dalam penderitaan, si gadis percaya dengan keajaiban – keajaiban seperti peri dan malaikat. Tapi dia yakin dia tidak pantas mendapatkan pertolongan dari makhluk ajaib semacam itu. Bahkan dari pihak yang berseberangan sekalipun. Yang ini bukanlah peri apalagi malaikat.
Si gadis tidak bergerak atau mengeluarkan suara sedikitpun ketika sosok itu mendekat. Walaupun paru – parunya terasa terbakar karena menahan batuk. Sosok itu melewati istal si gadis tanpa menoleh. Setelah beberapa detik yang terasa seperti dalam hitungan jam, si gadis akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala dan menangkap sekilas wujud makhluk tersebut. Rambutnya panjang berwarna biru hampir mencapai pinggul. Tubuhnya tinggi dan ramping. Cahaya redup berpendar di ujung lain kandang, menandakan bahwa makhluk itu menemukan apapun yang dia cari di dalam salah satu istal dipojok sana. Samar – samar si gadis mendengar makhluk itu seperti berbicara pada seseorang dengan nada yang lembut.
“……..menemukanmu”
“Benar………..mu mati……..seperti ini”
“………….namamu?”
Tidak terdengar balasan dari lawan bicaranya. Si gadis berusaha lebih keras untuk menangkap perkataan si makhluk. Dia berusaha menegakkan posisi duduknya dan memanjangkan leher sambil terus menjaga agar rantai dikakinya tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun. Kali ini dia dapat mendengar lebih jelas dan sekilas melihat sosok itu berjongkok didepan sebuah istal
“Aku akan memberimu kehidupan dan kau akan berhutang padaku. Jiwamu akan menjadi milikku” dengan nada penuh rasa sayang, yang membuat si gadis sedikit merasa malu, si makhluk menambahkan “Aku akan kembali padamu nanti. Mengklaim apa yang menjadi milikku”
Dari tempat makhluk tersebut berada sinar biru sedikit berpendar, sedikit lebih terang dari sebelunnya dan kemudian menghilang beserta dengan udara berat yang menyelimutinya. Kandang bobrok tersebut kembali ke keadaan semula, gelap, dingin, dan sunyi. Apapun yang terjadi di istal itu, si gadis ingin mengetahuinya. Dia merasa seakan tubuhnya bergerak sendiri. Tangan kurusnya menarik – narik rantai yang mengikat kakinya. Ah, toh kakinya sudah remuk, sedikit hentakan disini dan puntiran disana tentu tak mengapa. Si gadis terus menarik rantai sementara tangan yang satunya menekan tulang yang hancur untuk menciptakan lebih banyak celah. Darah membuat rantai menjadi licin dan lebih mudah dilepaskan. Seketika si gadis sudah terlepas dari belenggu rantai. Dia kemudian merangkak menyeret tubuhnya dan menciptakan jalur darah di lantai. Dalam perjalanan, si gadis menemukan sepotong besi yang digunakan pekerja istal untuk meremukan kakinya. Entah kenapa si gadis memungut benda tersebut dan membawanya bersamanya. Setibanya di istal ‘misterius’ tersebut, si gadis melihat di ujung sudut gelapnya seseorang juga terpasung di dinding, tampak tidak sadarkan diri. Si gadis memiringkan kepala dan memicingkan mata, berupaya menajamkan indera penglihatannya. Seseorang itu adalah seorang pemuda, sekitar 5 tahun lebih tua darinya. Pemuda paling indah yang pernah dia liat. Walaupun dalam kondisi yang menyedihkan, lebam dan coreng lumpur menodai kulit poselennya, pemuda itu tetap terlihat bersinar. Tidak. Rongga di dada kirinya benar –  benar bersinar kebiruan. Biru yang sama dengan cahaya makhluk tadi.
Iblis. Demon. Si gadis pernah mendengar cerita – cerita tentang makhluk seperti itu. Menawari pertolongan saat seseorang dalam kesusahan dengan imbalan jiwa mereka. Tapi mereka hanya tertarik pada hal-hal indah. Orang – orang cantik, yang walaupun tercebur ke dalam lumpur, kubangan dosa, tetap terlihat seperti orang suci. Pemuda ini jelas termasuk dalam kategori tersebut. Penyakit dan luka apapun yang telah dideritanya, dia akan sembuh. Dia akan memperoleh kekuatan untuk mengeluarkan dirinya dari keadaan ini. Dia akan hidup. Sampai akhirnya si demon datang dan  mengakhiri kontrak.
Si gadis merangkak pelan – pelan menghampiri si pemuda. Cantik sekali
“Hei” bisik si gadis lirih
Si pemuda tetap tak sadarkan diri, bulu mata panjangnya sedikit bergerak, seakan terlalu berat untuk membuka. Si gadis mengamati cahaya biru di dada si pemuda dengan seksama. Sudah lama lupa dengan batuk – batuk dan kakinya yang remuk.
Belum, ‘hadiah’ si demon belum bekerja. Masih butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan dengan tubuh si penerima. Si gadis mencengkram erat – erat potongan besi ditangannya. ‘Masih ada waktu’. Dengan kekuatan yang berasal entah dari mana si gadis menusukkan potongan besi tersebut ke leher si pemuda. Mata si pemuda mendadak terbuka. Mata coklatnya menatap mata si gadis dengan kaget. ‘Maaf. Aku ingin hidup’ bisik si gadis dalam hati dan menarik tongkat besi tersebut kesamping, menciptakan koyakan yang lebar. Darah merembes dari leher si pemuda. Dia mati tanpa mengeluarkan suara. Si gadis lalu membawa potongan besi tadi kedada si pemuda. Menusuknya berulang kali, seakan berusaha mengejar cahaya biru didalamnya. Darah mengotori tangan dan wajah. Gadis itu menjatuhkan ‘senjata’nya kesamping dan mulai mengoyak dada si pemuda. Kulit. Darah. Daging. Tulang. Insting bertahan hidup membuat si gadis bertindak brutal. Atau itu karena tertarik pesona si cahaya biru? Si gadis tidak memikirkan apa – apa, sekarang yang dia lakukan hanyalah berusaha mencapai sumber cahaya biru itu. Sepasang tangan kurus si gadis membuka tulang rusuk si pemuda. ‘Ah, ini dia’. Dengan tangan kanannya si gadis menggenggam jantung si pemuda erat – erat. Organ tersebut bersinar kebiruan. Disinilah si demon menyimpan ‘hadiah’nya. Si gadis membawa organ tersebut dekat ke wajah. Dengan mata yang terbuka lebar mengamati sinar biru yang berasal dari setiap seratnya. Si gadis mengatupkan gigi – giginya pada benda tersebut. Gigit. Kunyah. Telan. Gigit. Kunyah. Telan. Saat itu si gadis baru sadar kalau perutnya sangat lapar. Teramat lapar. Entah kapan terakhir kali dia makan . ‘Telan cahaya biru itu sampai habis. Iblis itu tidak membuat kontrak denganmu. Kau akan hidup’ ujar si gadis dalam hati.
“Ya. Aku akan hidup”.

Oh. Ya. Ya, si gadis akan hidup.
Pada suatu hari tiba – tiba pengen nulis cerita pendek yang memuat kalimat “Chop her! Feed her to the pigs!”. Oh, saya udah mulai menulis ini sebelum GoT s6 eps 1 keluar kok! dan jauh sebelum ini udah punya beberapa OC yang ‘diumpankan’ ke ternak. Thanks to Dr. Lecter, Tropic Thunder, and history lessons.
Saya sangat sangat lelah dipaksa melihat dari mata orang yang mendapatkan kemudahan tanpa usaha. Terpilih tanpa harus menggerakkan satu jari pun. Menarik perhatian orang hanya dalam satu kali pertemuan. Dalam setiap kejadian – kejadian tadi pasti ada pihak lain, yang biasanya tak kasat mata dari “tokoh utama” / pemegang bendera “point of view”, yang menjadi korban. Dan para “tokoh – tokoh utama” melenggang sambil menudingkan telunjuk mereka “kau salah”,”kau benar”, “kau salah”, blablablabla . Oh ya dan tentu saja sudah lupa dengan semua kemudahan yang mereka dapatkan dari awal kisah mereka yang ‘pilu’.
Ga, aku ga benci sama karakter si pemuda disini. Bukan salahnya dia punya paras cantik yang menarik perhatian si demon, yang kemudian menyelamatkannya. Bukan salahnya. Mungkin kalau si pemuda hidup, dia akan terlibat asmara terlarang dengan si demon blablablabla si demon lalu tidak jadi mengambil jiwanya karena cinta blablabla. Bukan cerita seperti itu yang aku cari. Aku sudah bosan dengan ‘cerita sedih’ tentang orang – orang beruntung yang secara ajaib terselamatkan. Kalau kau mau selamat, selamatkan lah pantatmu sendiri. Usaha nak. Aku tidak akan menyebut ‘cerita indah’ mu angst. Ga akan.
Oh ya si pemuda ini juga ‘barang dagangan’ si pemilik brothel. Dia di pasung di kandang bukan untuk di jadikan pakan ternak. Tapi cuma dihukum karena mencuri makanan dan melawan si pemilik brothel.

Advertisements

One thought on “To the Pigs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s