Story

The Frog & The Merchant’s Step Daughter : Chapter 03

Rumah dan toko Rasmus berada di bagian makmur dari Odievu Market. Pada bagian itu stal dan kios tidak terlihat lagi, digantikan oleh toko – toko yang tertata rapi. Bagi sebagian besar orang, menemukan rumah Rasmus tidaklah sulit. Rumah nya berlantai tiga, terbuat dari bata merah, dengan papan nama kayu yang didekorasi dengan indah terpasang pada bagian atas pintu masuk toko, bertuliskan Edgaron’s Grocer. Tapi Selig tidak mengetahui hal tersebut. Bagaimana mungkin, selama ini dia tinggal di istana. Dia hanya menaruh perhatian pada pelajarannya sebagai murid Bartholomew dan pergaulan di kalangan istana. Kewajiban yang berhubungan dengan kebutuhan sehari – hari berada di tangan pelayan. Namun, sedikitnya Selig tahu kalau Rasmus tinggal dikawasan mana dan kalau rumor tentang putrinya benar, maka disekitar rumah Rasmus setidaknya ramai oleh pemuda atau minstrel yang mencoba menggoda Rosamund.

Suara nyanyian minstrel terdengar merdu dan lantang, menyanyikan lagu – lagu cinta didepan sebuah toko. Toko yang ini sedikit lebih ramai dari toko yang lainnya. ‘Ini dia’ pikir Selig.’Mungkin’. Semangat katak putih tersebut padam begitu mendengar suara anak – anak yang riang bermain. Anak – anak adalah makhluk yang berbahaya untuk hewan mungil tak berdaya, apalagi kalau hewan tersebut memiliki penampilan yang ganjil di kalangan spesiesnya. Untuk mencapai rumah (yang dicurigai sebagai milik) Rasmus, Selig harus menyeberangi jalan, menghindari kaki – kaki orang dewasa dan perhatian anak – anak.

Tidak ada hari yang lebih ‘menyenangkan’ dari hari ini dalam kehidupan pemuda itu sebelumnya. Tidak ada. Dengan semangat yang tidak pernah dia miliki sebelumnya, Selig berdoa dalam hati pada dewa – dewi, roh leluhur, dan penyihir – penyihir lagenda, apapun yang dia ketahui. Semoga dia bisa melewati segala rintangan ini sebelum menghadapi ketidak pastian lainnya. Terkadang, sepintar dan sehati – hati apapun kau dalam mengambil tindakan, ada kalanya kau merasa ‘persetan dengan segalanya’ dan hanya ingin segala sesuatu cepat berakhir. Pikiran seperti itulah yang membuatmu menjadi nekat. Dan bodoh. Tapi kau tidak bisa melakukan apa – apa, karena walaupun kau tidak mau mengakuinya, kau putus asa dan takut. Dan persetan dengan dunia. Seekor katak putih melompat menyeberangi jalan. Keluar dari perlindungannya dibawah bayang – bayang bangunan.

“Ey, Rod. Coba lihat ini!!”.

Bayangan gelap menutupi tubuh mungil Selig. Ternyata setanlah yang telah mendengar doanya.

“Coba liat katak ini aneh sekali!!” suara bocah itu tinggi memekakkan telinga.

“Whoaa! Ini katak teraneh yang pernah ku lihat” kata anak yang satunya.

Pemuda – katak itu merasa sepasang telapak tangan kecil mengangkat tubuhnya. Selig mengumpat dan melompat, sebelum akhirnya dia terperangkap lagi diantara dua telapak tangan manusia.

“Aku pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Bahkan lebih aneh lagi. Badannya merah menyala!” kata bocah yang lain

Sebelumnya Selig tidak pernah merasa sedekat ini dengan kematian. ‘Apa yang telah kulakukan sehingga aku pantas menerima siksaan seperti ini.’ pikir katak itu suram. Di tangan anak – anak ‘liar’ seperti itu kematian pasti akan terasa lambat dan menyakitkan.

“Apa itu yang ada di tanganmu?” suara anak perempuan. Anak perempuan itu kemudian memekik bersamaan dengan itu sinar matahari kembali menerangi harapan Selig.

“Ih, Rod! jorok! buang sekarang juga!”.

Tampaknya anak perempuan itu adalah kakak dari anak – anak tadi, atau setidaknya salah satu dari mereka. Tanpa membuang waktu lagi, Selig melompat turun dari tangan si bocah, tak peduli apakah dia menuju arah yang benar atau kembali ketempat asalnya.

“Sudah biarkan saja. Cuci tanganmu sana!. Kamu jangan menyentuh hewan menjijikan seperti itu lagi ya, atau ku laporkan Mama!” Perintah si anak perempuan. Anak lelaki tadi menggerutu.

Batin Selig konflik. Antara bersyukur telah lolos dari maut atau tersinggung karena disebut menjijikan. Pemuda itu percaya dia adalah seekor katak yang higienis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s