Story

The Frog & The Merchant’s Step Daughter : Chapter 01

“Aku adalah seekor katak.”

Seekor katak berwarna putih dan, anehnya, bermata biru elektrik menempel pada sebongkah batu. “Aku harus tetap tenang.” Pikir katak itu sambil berusaha menata nafasnya, atau sejauh mana seekor katak bisa menata nafas. “Si tua sialan itu !.” Sekejap si katak telah gagal dalam usahanya untuk tetap tenang dan logis, sebelum sempat melontarkan makian, sebuah kereta kuda melaju dan mecipratkan genangan lumpur hujan pada si katak, memaksanya untuk melompat ke dalam semak-semak dan mengalihkan makiannya pada si kusir kereta.
“Angkuh. Arogan. Kekanakan. Berbahaya. Kau harus belajar mengendalikan ego mu” itu adalah kata – kata terakhir, atau setidaknya yang terakhir dapat diingat Selig, dilontarkan oleh Bartholomew, gurunya. Bartholomew yang Agung. Bartholomew yang Bijak. Bartholomew yang Tua….Sepuh…Kuno…. dan segala umpatan terus mengalir dalam benak Selig. Selama ini Selig selalu mengira dia adalah, kalau bukan (bisa dibilang) satu – satunya, murid terbaik Bartholomew. Bukan salahnya kalau ‘si Tua yang Lamban’ terlalu takut untuk mengakui muridnya itu akan mengunggulinya dalam segi apapun.

Selig mengerinyitkan hidung dengan jijik mengingat wujudnya yang sekarang, ‘Ya, dia iri padaku’ ucap penyihir muda itu dalam hati sambil mengibaskan rambut pirang pucatnya ke belakang….juga didalam hati, karena sekarang dia hanya seekor amfibi tanpa rambut. ‘Selig sayang, Selig sayang, tenang….ini hanya sihir transformasi murahan, kau pasti bisa membatalkannya. Setelahnya kau bisa membunuh si Tua itu’. Dalam hati, sang penyihir muda tahu ini bukan sihir transformasi murahan biasa, karena dia menguasai segala macam sihir seperti itu dan tidak satupun dari mantra yang dia ucapkan dalam suara katak (“sukurlah! aku masih bisa bicara!.” Lompat Selig kegirangan) berhasil mengubahnya kembali. Ada dua kemungkinan ; 1. Kekuatannya ikut hilang seiring dengan transformasi ; 2. Ini bukan sihir tapi kutukan, yang mana obatnya akan melibatkan hal – hal merepotkan seperti ciuman putri atau cinta sejati (“ha!!siapa yang tidak akan jatuh cinta padaku?!”, sedetik kemudian Selig kembali ingat akan wujud barunya). Karena terlalu takut memikirkan kemungkinan pertama, Selig memutar otak kataknya yang mungil. ‘Kalau memang kekuatanku ikut hilang, maka tidak ada yang bisa kulakukan, tapi kalau ini kutukan dan kalau memang ini jenis yang bisa diobati dengan ciuman,apapun jenisnya, maka yang harus kulakukan adalah membujuk seorang putri untuk menciumku, dan kalaupun tidak berhasil, aku tinggal membujuknya untuk membawa ku ke menara sihir istana, disana aku bisa menggunakan bantuannya untuk mencari penangkal sihir (atau kutukan) konyol ini.’ , pikir si katak. Dalam tahap ini Selig benar – benar mengabaikan berapa jumlah kata “kalau” yang telah dia gunakan dan kenyataan bahwa Raja dan Ratu kerajaan ini tidak mempunyai anak perempuan. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya. Kutukan bisa mengecoh, hal – hal yang sederhana bisa tampak rumit. Putri bisa jadi hanyalah putri = anak perempuan, tidak selalu anak perempuan penguasa. ‘Tapi untuk amannya lebih baik aku mencari anak perempuan dari orang kaya didaerah sini’, pikirnya.

selig
Sassy frog LOL

Dari bata pucat yang membentuk jalan dan bangunan – bangunannya yang cerah (yang diperhatikan secara susah payah dari sudut pandang katak) bisa dipastikan Selig berada di kawasan perdagangan, tidak jauh dari istana (tapi bagai jarak antar planet bagi seekor katak). Bagaimana dia bisa terdampar di tempat ini masih menjadi misteri. Detik terakhir yang bisa dia ingat saat berwujud manusia, dia masih berada dalam kamarnya yang rumit (sungguh rumit dengan segala tapestri bermotif kuno, buku – buku, dan ramuan), detik berikutnya dia adalah seekor katak albino yang marah dan berlendir di tepi jalan Odievu Market.Hal ini membuatnya semakin kesal karena akan semakin menyulitkannya dalam menebak jenis kemalangan apa yang menimpanya. Kenapa Bartholomew tidak membuangnya ke tempat antah berantah diluar batas kerajaan atau langsung melumat tubuh kecilnya saja membuatnya resah. ‘Si tua itu merencanakan sesuatu.’.Si katak (berusaha) menggelengkan kepalanya, mengusir segala pikiran negatif yang tidak bermanfaat, bagaimanapun juga rencana terbaik (dan terdekat) yang bisa dia lakukan sekarang adalah mencari ciuman seorang putri.

Note :

Belum dicek. Mohon maaf jika terjadi banyak kesalahan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s